Welcome to Oryza's Page, you read it and you will know it. "Tinggalkan komentar anda".

Sabtu, 26 Mei 2012

Pentingnya diversifikasi pangan di Indonesia


10 September 2009

Tingginya konsumsi beras di Indonesia menyebabkan diterapkannya kebijakan impor yang menyiksa petani dan mengancam kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan diversifikasi pangan untuk mengatasi tingginya konsumsi beras.
Konsumsi beras Indonesia menduduki peringkat satu dunia. Setiap tahunnya, konsumsi beras per kapita oleh masyarakat Indonesia mencapai 139 kilogram per kapita. Jumlah ini sangat jauh bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Jepang dan Malaysia yang hanya 60 kg dan 80 kg per kapita per tahun. Dalam kasus yang lebih ekstrem, pada tahun 2008 provinsi Sulawesi Tenggara memiliki tingkat konsumsi sebesar 195,5 kilogram per kapita.
Tingginya konsumsi beras mengakibatkan permintaan beras di dalam negeri tinggi dan terkadang tidak seimbang dengan ketersediaan. Setidaknya terdapat dua alasan yakni tingginya impor yang merugikan petani dan aspek kesehatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2008 Indonesia memproduksi padi sebesar 60,33 juta ton gabah kering giling (GKG).  Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar  3,17 juta ton atau 5,54 persen.
Walaupun produksi beras Indonesia tinggi, hal ini juga diimbangi dengan tingginya konsumsi yang akhirnya mengarahkan kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beras. Kebijakan impor dipilih pemerintah untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri dan menekan harga agar tetap terjangkau konsumen.  Hal ini jelas merugikan petani.
Data yang dikumpulkan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) selama tahun 1996 – 2003, Indonesia mengimpor beras rata rata 2,8 juta ton per tahun. Pada 2007 impor beras Indonesia mencapai 1,5 juta ton dan baru pada tahun 2008 Indonesia bebas dari impor beras dengan klaim pemerintah sebagai tahun swasembada beras.
Dari aspek kesehatan, konsumsi beras dalam jumlah tinggi tidaklah baik bagi kesehatan. Dr.Ir.Posman Sibuea dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Lemlit) Tekonologi Pangan Universitas Methodist Medan menuturkan bahwa pola makan yang monoton seperti mengkonsumsi nasi kuranglah baik karena asupan gizi yang diterima oleh tubuh menjadi lebih sedikit.
Witoro selaku Sekretaris Jendral KRKP menuturkan bahwa terdapat banyak sekali alternatif pilihan makanan pokok pengganti beras yang mengandung karbohidrat. karbohidrat dapat ditemui dalam berbagai jenis makanan lain seperti ubi kayu (singkong), ubi, ketela, jagung, sagu, gandum, kentang, jagung, talas dan masih banyak lagi. Sayangnya, di dalam masyarakat Indonesia muncul resistensi bahwa selain beras adalah makanan yang terkesan kurang bergengsi.
“Indonesia memiliki banyak varian konsumsi pokok seperti singkong, masalahnya orang masih berpikir bahwa singkong adalah ciri makanan menengah ke bawah. Paradigma ini harus diubah sehingga masyarakat mau mengkonsumsi selain beras,” tandasnya.
Salah satu daerah di Indonesia yang sedang mengupayakan pengembangan pangan alternatif adalah Nusa Tenggara Timur. Upaya yang dilakukan adalah melalui program “desa mandiri pangan menuju desa sejahtera”. Program ini dilakukan untuk mengatasi masalah kerawanan pangan karena ketergantungan yang tinggi pada beras. Pelaksanaan program dimulai dari pemerintah yang berkomitmen menyelesaikan kelaparan dengan pangan lokal. Setiap hari kamis dan jumat, pemerintah NTT mengkonsumsi berbagai pangan lokal seperti jagung dan sagu di lingkungan pemerintahan. (RR).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar